PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN PADA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH STAIN/IAIN/UIN (LPTK)

PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN PADA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH STAIN/IAIN/UIN (LPTK)

Oleh :

DEDI NOVIYANTO

(Disampaikan dalam Seminar Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam – Program Magister Manajemen Pendidikan Islam – UIN MALIKI Malang tanggal 1 Desember 2010)

 

A.      PENDAHULUAN

1.         Latar Belakang

Pembaharuan pendidikan dan pembelajaran selalu dilaksanakan dari waktu ke waktu dan tak pernah henti. Pendidikan dan pembelajaran berbasis kompetensi merupakan contoh hasil perubahan dimaksud dengan tujuan untuk meningkatkan kulitas pendidikan dan pembelajaran. Pendidikan berbasis kompetensi menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu jenjang pendidikan. Kompetensi yang sering disebut dengan standar kompetensi adalah kemampuan yang secara umum harus dikuasai lulusan. Kompetensi (kemampuan) lulusan merupakan modal utama untuk bersaing di tingkat global, karena persaingan yang terjadi adalah pada kemampuan sumber daya manusia. Oleh karena. itu, penerapan pendidikan berbasis kompetensi diharapkan akan menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di tingkat global. Implikasi pendidikan berbasis kompetensi adalah pengembangan silabus dan sistem penilaian berbasiskan kompetensi.
Paradigma pendidikan berbasis kompetensi yang mencakup kurikulum, pembelajaran, dan penilaian, menekankan pencapaian hasil belajar sesuai dengan standar kompetensi. Kurikulum berisi bahan ajar yang diberikan kepada mahasiswa melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan prinsip-prinsip pengembangan pembelajaran yang mencakup pemilihan materi, strategi, media, penilaian, dan sumber atau bahan pembelajaran. Tingkat keberhasilan belajar yang dicapai mahasiswa dapat dilihat pada kemampuan mahasiswa menyelesaikan tugas-tugas yang harus dikuasai sesuai dengan standar prosedur tertentu.

Kurikulum dapat. dimaknai sebagai: suatu dokumen atau rencana tertulis mengenai kualitas pendidikan yang harus dimiliki oleh peserta didik melalui suatu pengalaman belajar. Pengertian ini mengandung arti bahwa kurikulum harus tertuang dalam satu atau beberapa dokumen atau rencana tertulis. Dokumen atau rencana tertulis itu berisikan pernyataan mengenai kualitas yang harus dimiliki seorang peserta didik yang mengikuti kurikulum tersebut. Makna kurikulum adalah pengalaman belajar. Pengalaman belajar di sini dimaksudkan adalah pengalaman belajar yang dialami oleh peserta didik seperti yang direncanakan dalam dokumen tertuhs. Pengalaman belajar peserta didik tersebut adalah konsekuensi langsung dari dokumen tertulis yang dikembangkan oleh dosen/instruktur/pendidik. Dokumen tertulis yang dikembangkan dosen ini dinamakan Rencana Perkuliahan/Satuan Pembelajaran. Pengalaman belajar ini memberikan dampak langsung terhadap hasil belajar mahasiswa. Oleh karena itu jika pengalaman belajar ini tidak sesuai dengan rencana tertulis maka hasil belajar yang diperoleh peserta didik tidak dapat dikatakan sebagai hasil dari kurikulum.
Ada enam dimensi pengembangan kurikulum untuk pendidikan tinggi yaitu pengembangan ide dasar untuk kurikulum, pengembangan program, rencana perkuliahan/satuan pembelajaran, pengalaman belajar, penilaian dan hasil. Keenam dimensi tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori yaitu Perencanaan Kurikulum, Implementasi Kurikulum, dan Evaluasi Kurikulum. Perencanaan Kurikulum berkenaan dengan pengernbangan Pokok Pikiran/Ide kurikulum dimana wewenang menentukan ada pada pengambil kebijakan urtuk suatu lembaga pendidikan. Sedangkan Implementasi kurikulum berkenaan dengan pelaksanaan kurikulum di lapangan (lembaga pendidikan/kelas) dimana yang menjadi pengembang dan penentu adaIah dosen/tenaga kependidikan. Evaluasi             Kurikulum merupakan kategori ketiga dimana kurikulum dinilai apakah kurikulum memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang sudah dirancang ataukah ada masalah lain baik berkenaan dengan salah satu dimensi ataukah keseluruhannya. Dalam konteks ini evaluasi kurikulum dilakukan oleh tim di luar tim pengembang kurikulum dan dilaksanakan setelah kurikulum dianggap cukup waktu untuk menunjukkan kinerja dan prestasinya.

2.         Rumusan Masalah

            Agar pembahasan di dalam makalah ini lebih terkonsentrasi, maka dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:

1.         Bagaimanakah kurikulum pada pendidikan tinggi?

2.         Bagaimanakah kurikulum pada fakultas tarbiyah (LPTK GPAI ?

B.        PEMBAHASAN

1.       Kurikulum Pendidikan Tinggi
1.1     Kurikulum Pendidikan Tinggi Berdasarkan Sk Mendiknas 232
Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Vomor 232/U/2000 Mail menetapkan Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa. Dalam Surat Keputusan tersebut dikemukakan struktur kurikulum berdasarkan tujuan belajar (1) Learning to know, (2) learning to do, (3) learning to live together, dan (4) learning to be. [1]           Berdasarkan pemikiran tentang tujuan belajar tersebut maka mata kuliah dalam kurikulum perguruan tinggi dibagi atas 5 kelompok yaitu: (1) Mata. kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) (2) Mata Kuliah Keilmuan Dan Ketrampilan (MKK) (3) Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB) (4) Mata Kuliah Perilaku Berkarya (MPB), dan (5) Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB).
Keputusan Mendiknas yang dituangkan dalam SK nomor 232 tahun 2000 di atas jelas menunjukkan arah kurikulum berbasis kompetensi walaupun secara eksplisit tidak dinyatakan demikian.
1.2. Kurikulum Pendidikan Tinggi Berdasarkan SK Mendiknas No.045/U/2002
          Surat Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002. tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi mengemukakan “Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu”.
Kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang pada tahap perencanaan, terutama dalam tahap pengembangan ide akan dipengaruhi oleh kemungkinan-kemungkinan pendekatan, kompetensi dapat menjawab tantangan yang muncul. Artinya, pada waktu mengembangkan atau mengadopsi pemikiran kurikulum berbasis kompetensi maka pengembang kurikulum harus mengenal benar landasan filosofi, kekuatan dan kelemahan pendekatan kompetensi dalam menjawab tantangan, serta jangkauan validitas pendekatan tersebut ke masa depan. Harus diingat bahwa kompetensi bersifat terus berkembang sesuai dengan tuntutan dunia kerja atau dunia profesi maupun dunia ilmu.
SK Mendiknas nomor 045 tahun 2002 ini memperkuat perlunya pendekatan KBK dalam pengembangan kurikulum pendidikan tinggi. Bahkan dalam SK Mendiknas 045 pasal 2 ayat (2) dikatakan bahwa kelima kelompok mata kuliah yang dikemukakan dalam SK nomor 232 adalah merupakan elemen-elemen kompetensi. Selanjutnya, keputusan tersebut menetapkan pula arah pengembangan program yang dinamakan dengan kurikulum inti dan kurikulum institusional. Jika diartikan melalui keputusan nornor 045 maka kurikulum inti berisikan kompetensi utama sedangkan kurikulum institusional berisikan kompetensi pendukung dan kompetensi lainnya. Berdasarkan SK Mendiknas nomor 045, Kurikulum Inti yang merupakan penciri kompetensi utama, bersifat:
a. Dasar untuk mencapai kompetensi lulusan;
b. Acuan baku minimal mutu penyelenggaraan program studi;
c. Berlaku secara. nasional dan internasional;
d. Lentur dan akomodatif terhadap perubahan yang sangat cepat di masa mendatang;
e. Kesepakatan bersama antara kalangan perguruan tinggi, masyarakat profesi, dan pengguna lulusan.
Sedangkan Kurikulurn institusional berisikan kompetensi pendukung serta kompetensi lain yang bersifat khusus dan bergayut dengan kompetensi utama.
1.3.    Implementasi Kurikulum
Dalam rangka implementasi KBK di perguruan Tinggi, maka hendaknya kita memperlakukan kelima kelompok mata kuliah tersebut sebagai kelompok kompetensi (Mulyasa, 2003). Dengan demikian maka setiap mata kuliah harus menjabarkan, kompetensi yang dikembangkan mata kuliah tersebut sehingga setiap mata kuliah memiliki matriks kompetensi. Setelah itu dapat dikembangkan matriks yang menggambarkan sumbangan setiap mata kuliah terhadap kelima, kategori kompetensi.
1.4.    Penilaian dan Strategi
Dengan kurikulum berbasis kompetensi maka sistem penilaian hasil belajar haruslah berubah. Ciri utama perubahan penilaiannya adalah terletak pada pelaksanaan penilaian yang berkelanjutan serta komprehensif, yang mencakup aspek-aspek berikut:[2]
a. Penilaian hasil belajar;
b. Penilaian proses belajar mengajar;
c. Penilaian kompetensi mengajar dosen;
d. Penilaian relevansi kurikulum;
e. Penilaian daya dukung sarana. dan fasilitas;
f. Penilaian program
Sementara itu strategi yang dapat digunakan dalam penilaian Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah [3]: Mengartikulasikan standar dan desain penilaian di lingkungan pendidikan pendidikan tinggi, mengembangkan kemampuan dosen untuk melakukan dan memanfaatkan proses pernbelajaran, mengembangkan kemampuan subyek didik untuk memanfaatkan hasil penilaian dalam meningkatkan efektifitas belajar mereka, memantau dan menilai dampak jangka panjang terhadap proses dan hasil belajar

2.       Kurikulum PAI Fakultas Tarbiyah sebagai LPTK untuk Calon Guru PAI Sekolah Tingkat Dasar dan Menengah
2.1.    Profesi Kelulusan

Program studi Pendidikan Agama Islam adalah sebuah program studi yang ditawarkan oleh Fakultas Tarbiyah dari Perguruan Tinggi Islam kepada mahasiswa yang hendak menjadi calon guru PAI. Program ini dilaksanakan untuk menghasilkan lulusan calon guru Pendidikan Agama Islam di sekolah tingkat dasar dan menengah
2.2.    Kompetensi Lulusan
Kompetensi profesi utama pendidikan calon guru PAI di Fakultas Tarbiyah diarahkan kepada usaha mempersiapkan mahasiswa menjadi calon guru PAI di sekolah tingkat dasar dan/atau menengah dengan tuntutan kompetensi yang harus dimilikinya, antara lain:

a.       Mampu menguasai berbagai pendekatan, metode dan teknik pembelajaran pada PAI (yang tidak hanya mencakup aspek kognitif) Menguasai berbagai pendekatan, metode dan teknik pembelajaran pada PAI (dalam aspek kognitif)

b.       Mampu menjelaskan pola-pola program pembelajaran (lesson plan) PAI Menguasai prosedur penyusunan desain program pembelajaran (lesson plan) pada PAI

c.       Mampu mengidentifikasi jenis, bentuk, tujuan dan pelaksanaan evaluasi Menguasai cara efektif dan efisien mengevaluasi program pembelajaran PAI

d.      Menguasai kurikulum PAI (Tingkat dasart, menengah dan atas)

e.       Menguasai pendekatan, metode dalam memahami al-Qur;an, Sunnah dan Fiqh serta ilmu-ilmu ke-Islaman lainnya

2.3.    Mata Kuliah yang Digunakan untuk Membelajarkan Kompetensi
a.       Kompetensi Dasar
01.     Ulumul Qur’an

02      Ulumul Hadits

03      Fiqh/Usul Fiqh
04      Ilmu Kalam Mampu
05      Ilmu Akhlak/Tasawuf

06      Filsafat Islam

07      Sejarah Peradaban Islam

08      Ilmu Alamiyah Dasar
09      PPKn

10      Bahasa Indonesia

11      Bahasa Inggris

12      Bahasa Arab
b.      Profesi Utama
01      Bahasa Inggris

02      Bahasa Arab

03      Filsafat Umum
04      Metodologi Penelitian

05      Fiqih I, II, III

06      Hadits I, II, III

07      Tafsir I, II, III

08      Filsafat Ilmu

09      Ilmu Pendidikan I,II
10      Psiko. Umum&

11     Pengembangan. Kurikulum

12      Perencanaan Pengajaran
13      Statistic Pendidikan
14      SBM (Stra.Bel.Meng)
15      Administr. Pendidikan
16      Psikologi Pendidikan

17      Bimbingan Konseling
18      Media Pengajaran
19      Ilmu Pend. Islam

20      MKPAI I, II

21      Telaah Kurikulum SLTP/SMA

22      Peng. Evaluasi PAI

23      Kapita Selekta Pendidikan
24      Filsafat Pendidikan Islam

25      Micro Teaching

26      PPL

27      KKN
28      Skripsi
c.       Profesi Tambahan
01      Computer
02      Psikologi Agama

03      Jasa Kewirausahaan
04      Masailul Fiqh
05      Qiro’atul Kutub

06      Praktik Ibadah
07      Praktik Tilawah

08      Bimbingan Skripsi Jumlah SKS 13
C.      PENUTUP DAN SIMPULAN
Pengembangan kurikulum pendidikan tenaga kependidikan calon guru PAI pada program studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah harus lebih memperhatikan masalah relevansi internal dan eksternalnya. Relevansi internal dimaksud adalah bahwa kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara unsure-unsur atau komponen-komponen kurikulum, yakni tujuan, materi pembelajaran, metode, dan evaluasi. Sedangkan relevansi eksternal berarti bahwa kurikulum dikembangkan dengan melihat aspek-aspek yang berada di luar seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, kondisi sosiologis/lingkungan manusiawi, perkembangan isu-isu actual dan global, dan sebagainya.
Relevansi internal menuntut dosen untuk berpikir secara jernih bagaimana seharusnya kurikulum itu dapat dijalankan dengan mempertimbangkan kesesuaian antara komponen-komponen internal kurikulum. Kompetensi dikembangkan dengan merujuk kepada empat aspek tujuan pembelajaran sebagaimana yang disampaikan UNESCO sebagai sebuah organisasi pendidikan dunia, yakni “learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be. Untuk tujuan pertama, kurikulum dan pembelajaran didorong untuk menghasilkan lulusan yang memiliki keunggulan kognitif yang bersifat akademis. Untuk tujuan kedua, kurikulum dan pembelajaran diarahkan kepada pembentukan lulusan yang memiliki kemampuan melakukan apa yang diketahui. Tujuan ketiga, mendorong lulusan untuk mampu hidup dalam bermasyarakat dan bernegara bersama-sama dengan masyarakat dan bangsa lain. Dan tujuan keempat, mendorong lulusn untuk menjadi manusia yang memiliki integritas dan kualitas kemanusiaannya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Depdiknas, 2000. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 010/0/2000 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta:Depdiknas

Mulyasa, E, 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Bandung : Remaja Rosda Karya.

Yamin, H. Martinis. 2005. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta: Gaung Persada Press.

Yamin, H. Martinis. 2006. Profesionalisme Guru & Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Gaung Persada Press.


[1] Depdiknas, 2000. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 010/0/2000 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta:Depdiknas

[2] Mulyasa, E. 2004. Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK. Bandung: Remaja Rosdakarya.

[3] Yamin, H. Martinis. 2005. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta: Gaung Persada Press.

2 comments on “PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN PADA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH STAIN/IAIN/UIN (LPTK)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s